Berkaca Kepada Sampar | AS Institute

Jam tujuh tadi pagi aku tersentak dari tidur, setelah lebih dari delapan jam tertidur sebagai syarat untuk memulai hidup sehat. Sejak pandemi beberapa kebiasaanku mulai terkikis. Bermula dari keharusan untuk tidur larut malam dan bangun lebih pagi. Lalu bersiap ngampus demi menjalankan rutinitas sebagai mahasiswa. 

 
Photo by Alex Koch (pexels)

Masih teringat, bahwa setiap jam tujuh pagi aku harus berebut kursi angkot sebagai alat transportasi menuju kampus. Belum lagi kadang harus rela untuk pulang ke rumah indekos karena dosen pada saat jam mata kuliah tertentu sedang berada di luar kota. Dengan kondisi yang demikian padat menuntunku untuk berlatih dan pandai mengatur waktu se-efisien mungkin.  

Pada awal datangnya virus covid-19, tepatnya pada bulan Maret tahun 2020. Secara serentak mahasiswa, akademisi dan tenaga kependidikan dipulangkan ke rumah masing-masing. Selanjutnya, demi untuk menjamin tetap berjalannya proses perkuliahan, kampus akhirnya mengeluarkan kebijakan untuk belajar dari rumah dan segala urusan yang berkaitan dengan kampus dialihkan pada platform online.

Dengan kondisi demikian aku merasa sedikit bahagia. Karena aku tidak diharuskan lagi untuk menjalankan aktivitas sehari-hari sesibuk sebelum datangnya wabah ini. Aku tidak perlu untuk berebut angkot di pagi hari juga tidak lagi merasa kesal apabila dosen berhalangan hadir untuk melaksanakan proses perkuliahan di kampus.

Namun seiring berjalannya waktu,  kejenuhan mulai datang menghampiri. Aku yang biasanya aktif melakukan aktivitas di luar rumah harus selalu dihadapkan pada menatap barang-barang yang itu-itu saja. mulai dari tempat tidur dengan bantal dua buah, selimut bermotif logo klub Real Madrid FC dan lengkap dengan kasur diselimuti dengan seprai berwarna putih polos.

Kadang-kadang kejenuhanku dapat diatasi dengan media sosial. Misalnya saja tiktok dengan melihat cuplikan-cuplikan lucu, yang sesekali terlewat juga cuplikan video yang memancing syahwat. Jika telah bosan maka jariku akan kualihkan pada aplikasi instagram, sekedar ingin melihat kondisi kawan-kawan, juga berita tentang isu-isu negara, pemerintahan bahkan hingga pada potongan-potongan podcast yang diedit menjadi kutipan-kutipan motivasi.

Awalnya aku tidak merasakan adanya suatu perubahan yang signifikan dalam keseharian yang dijalani. Namun secara berangsur kejenuhan yang menimpa bermetamorfosa menjadi kemalasan akut. Karena dengan kondisi demikian harus dipaksa untuk tetap duduk atau berdiam diri pada suatu tempat dengan waktu yang relatif lama oleh suguhan yang tersedia di media sosial. Bahkan bisa lupa makan, lebih tepatnya melewatkan waktu makan, mandi dan berbagai aktivitas pokok lainnya.

Informasi yang didapatkan melalui media sosial ternyata juga sangat berpengaruh bagi perkembangan pola pikir. Misalnya dengan qoute-qoute yang aku temui pada salah satu tagar instagram “jangan semangat”. Secara tidak langsung memberikan rangsangan untuk menjadikan quote tersebut sebagai sugesti untuk pasrah. Lebih tepatnya memasrahkan diri. Sehingga merasa nyaman berada di atas ranjang dan lebih banyak menghabiskan waktu di depan layar HP daripada berbuat suatu hal yang lebih produktif.  

Pun dengan kebanjiran informasi di media sosial. Yang sebagian besar hanya bersifat menghibur dan kekurangan subtansi dalam mengedukasi membuat pola pikir menjadi kurang terlatih. Misalnya saja yang disajikan adalah gosip tentang artis seperti informasi tentang artis melahirkan, artis yang dipinang dengan mahar miliaran rupiah. Yang sebenarnya informasi-informasi tersebut tidak lebih penting dibanding keadaan atau cara-cara untuk melakukan inovasi sebagai upaya untuk keluar dari jeratan pandemi covid-19.

Juga terlihat dengan pengaruh media sosial yang semakin masif mengakibatkan berkurangnya kualitas hubungan sosial yang terjadi di lingkungan masyarakat. kita bisa melihat saat ini bahwa beberapa orang lebih suka untuk berinteraksi dengan HP-nya dibanding berkomunikasi dan saling tegur sapa dengan orang sekitar. Apalagi kadang kesempatan berkumpul digunakan oleh generasi muda hanya untuk sebatas update story saja.

Memang kita dapat memilih mana yang harusnya dilihat atau tidak. Namun kebiasaan kita dalam melihat suatu informasi secara berkelanjutan menjadikan sistem ai (artificial intelligence) yang terdapat dalam media sosial mendorong kita untuk tetap menikmati informasi yang sama, tanpa adanya pertimbangan informasi tersebut bermanfaat atau tidak bagi perkembangan pola pikir.

Dalam berbagai kejenuhan dan kemalasan yang dirasakan. Aku teringat dengan wabah sampar yang diceritakan oleh Albert Camus melalui novelnya yang berjudul “Sampar”. Walaupun lingkup wabah yang masih tergolong pada endemik. Namun yang menjadi pusat perhatian di sini adalah sampar menjadikan manusia-manusia yang terdampak terutama dalam satu wilayah yang dikenai sistem pembatasan untuk keluar masuk daerah terjangkit, atau sekarang dikenal dengan sebutan lockdown.  

Walaupun masyarakat yang didorong untuk mengisolasi diri, dengan keadan wabah ini menjadikan mereka lebih mengingat pada kematian. Sehingga lebih cenderung untuk memperbaiki kualitas hubungan yang terjalin. Juga disana mereka lebih memaksimalkan dan menghargai kehidupan yang sewaktu-waktu dapat berakhir.

Sehingga dalam proses hilangnya wabah sampar menjadikan masyarakat yang lebih dapat dan mampu untuk menghargai hubungan satu sama lain serta membentuk suatu kondisi ikatan emosional yang permanen dan berkualitas.

Maka dari itu dengan kondisi semakin tingginya jarak sesama manusia akibat pandemi covid-19 dan pengaruh media sosial. Wabah sampar karya Albert Camus dapat dijadikan sebagai kaca pembelajaran untuk kita mewujudkan hubungan yang lebih menghargai kawan yang bertemu dalam dunia nyata dibanding kawan yang hanya beinteraksi di media sosial.

Juga kita harus mampu mengubah mindseat dalam memilah informasi yang dikonsumsi melalui media sosial. Dan semoga kita bisa menghadapi berbagai ujian dalam wabah pandemi covid-19. Dan keluar sebagai bangsa yang lebih baik lagi dalam mewujudkan kemajuan dan kualitas sosial budaya yang baik. Semoga saja.

Penulis : Hamda Afsuri Saimar, Seniman Hukum (S.H)